Berita Batam :
Home » » Dampak Kenaikan BBM di Batam

Dampak Kenaikan BBM di Batam

Posting By awaluddin ahmad on Saturday | Saturday, June 15, 2013

 LONJAKAN INFLASI - Seorang pedagang sedang mengemas tepung terigu beberapa waktu lalu. Rencana pemerintah menaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) bersubsidi Juni ini akan berdampak pada lonjakan inflasi, karena bersamaan dengan kenaikan harga jelang puasa. DOKMasyarakat Diminta Tenang

BATAM_Ekonomi  - Rencana pemerintah menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, di tambah jelang bulan puasa yang rutin terjadi kenaikan harga kebutuhan pokok akan berdampak pada kenaikan target inflasi sepanjang 2013 ini. Sebelumnya, Kantor Bank Indonesia Batam menargetkan inflasi sebesar 4,5 persen plus-minus 1, diperkirakan akan berubah menjadi 6-7 persen plus-minus.
Deputi Bidang Ekonomi dan Moneter Kantor Bank Indonesia (KBI) Batam Minot Purwahono kepada Haluan Kepri, Jumat (14/6) menyebutkan, Batam lebih komplit permasalahannya karena faktor inflasi tidak hanya berasal dari dalam kota, tetapi juga dari luar negeri (imported inflation), karena lebih dari 50 persen kebutuhan penduduk Batam berasal dari luar negeri. Apalagi saat ini sedang terjadi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

"BI menargetkan inflasi tahun ini 4,5 persen dengan deviasi plus-minus 1 persen. Kenaikan BBM bersubsidi jelang bulan puasa ini akan berdampak pada inflasi dan terjadi penambahan sekitar 1,5 persen. KBI Batam belum bisa memberikan angka pasti, karena belum melakukan pembahasan dengan pihak terkait tentang pasokan kebutuhan dan lain-lain. Rencananya rapat TPID (Tim Pengendalian Inflasi Daerah) akan dilakukan minggu ke tiga bulan ini, tetapi perkiraan saya sekitar 6-7 persen dengan deviasi plus-minus 1 persen," paparnya.

Kenaikan BBM, sebut Minot, memiliki multi player effect pada harga produk yang lain, apalagi Batam dan Kepri merupakan daerah kepulauan yang mana biaya transportasinya lebih mahal dibandingkan biaya transportasi darat. Kenaikan harga BBM akan diikuti dengan kenaikan sejumlah harga barang.

"Untuk mengatasi permasalahan ini Pemerintah Daerah harus memastikan suplay kebutuhan, terutama yang pokok harus terpenuhi, masyarakat juga jangan panik, sehingga perekonomian bisa berjalan dengan normal," ujar Minot.

Depresiasi Rupiah
Terkait depresiasi rupiah yang terjadi beberapa waktu belakangan, cukup mempengaruhi Batam. Hal itu karena kota ini merupakan kota industri dengan aktifitas ekspor dan impor yang cukup tinggi.

"Khusus Batam, aktifitas ekspor dan impor cukup tinggi. Dilihat dari PDRB (Produk Domestik Regional Bruto), lebih dari 50 persen ditunjang industri pengolahan. Jadi meskipun rupiah melemah, tidak serta merta terlalu menguntungkan pengusaha ekspor, karena produk yang diolah juga berasal dari luar (impor). Namun untuk industri seperti properti, ini akan berpengaruh, umpamanya membeli besi di saat seperti ini, pengusaha akan merogoh rupiah lebih besar, akibatnya pengusaha tentu saja akan menaikkan harga," papar Deputi Bidang Ekonomi dan Moneter Kantor Bank Indonesia Batam Minot Purwahono.

Namun, dengan intervensi BI terhadap nilai tukar rupiah di akhir pekan yang berhasil ditekan, depresiasi diperkirakan tidak lama.

"Nilai tukar sangat tergantung pasar. Perlu diingat, pelemahan nilai tukar tidak hanya terjadi dari ekonomi dalam negeri, tetapi juga sangat terpengaruhi oleh ekonomi global, belum lagi terjadinya perlambatan ekonomi Cina. Namun dari sisi neraca perdagangan Kepri, triwulan II ini cukup bagus, baik ekspor, maupun impor," pungkas Minot.

Sembako Aman

Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Energi Sumber Daya Mineral (Disperindag ESDM) Kota Batam Amsakar Achmad mengatakan, tiga bulan ke depan harga sejumlah kebutuhan di Batam diperkirakan naik. Namun dari segi ketersediaan barang, terutama kebutuhan pokok harian, mencukupi hingga tiga bulan ke depan.

"Harga kebutuhan selama tiga bulan ke depan ini kita perkirakan naik. Ini biasa terjadi menjelang puasa dan lebaran. Apalagi di waktu yang bersamaan merupakan momen liburan sekolah dan awal tahun ajaran baru, sehingga permintaan barang lebih tinggi dari biasanya," ujar Amsakar.

Dikatakan Amsakar, kenaikan harga menjelang puasa terjadi bukan karena pasokan berkurang, melainkan permintaan yang tinggi, ini tentunya akan berdampak pada inflasi. Namun begitu, sebut Amsakar, pemerintah akan terus memantau perkembangan pasar dengan melakukan survei ke pasar-pasar, sehingga kenaikan harga yang tidak wajar bisa ditangani sedini mungkin.

"Kita akan terus pantau perkembangan pasar, jangan sampai ada oknum-oknum yang memanfaatkan momen ini," ujar Amsakar.

Namun aku Amsakar, jika terdapat barang di pasaran sedikit, itu bukan dikarenakan tingginya harga sembako melainkan pengaruh cuaca yang tidak menentu, karena cuaca sangat mempengaruhi proses distribusi kebutuhan.

"Faktor cuaca sangat mempengaruhi harga produk di Batam, sehingga alur distribusi lemah. Makanya saya perkirakan kenaikan harga akan terjadi selama tiga bulan ke depan, dan akan kembali normal setelah lebaran," pungkasnya.
Share this article :
Comments
0 Comments
 
About Admin : My Facebook | My Twitter | PLH Indonesia| shoping aulia| My Profil
Copyright © 2011. Batam Hari Ini, Esok & Nanti - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger