Headlines News :
Home » » Peredaran Narkoba di Indonesia Kepri No. 2

Peredaran Narkoba di Indonesia Kepri No. 2

Posting By awaluddin ahmad on Thursday, 25 April 2013 | 4/25/2013 02:37:00 pm

Tempat Hiburan Harus Dirazia

BATAM (HK)- Peredaran Narkoba di Kepulauan Riau (Kepri) mengkhawatirkan. Badan Narkotika Nasional (BNN) merilis Kepri menduduki peringkat ke-2 sebagai daerah peredaran narkoba terbesar Se-Indonesia. 
Deputi Penindakan Badan Narkotika Nasional (BNN) Pusat, Irjen Pol Benny Mamoto mengatakan hal itu kepada wartawan, di sela-sela Rapat Kerja Teknis Pelaksanaan Interdiksi Terpadu 2013 di Batam, Rabu (24/4). 

"Kepri di urutan nomor 2 setelah Jakarta yang paling besar peredaran narkoba di Indonesia," ujarnya.

Kata Benny, tingginya angka peredaran narkoba di Kepri lantaran posisi Kepri sangat strategis sehingga sering dimanfaatkan sindikat internasional untuk memasukkan narkoba ke Indonesia. Narkoba yang dikirim dari luar negeri biasanya dari Pulau Batam, Kepri lalu dibawa ke Jakarta. Hal tersebut, terbukti dari hasil penyidikan dan pengungkapan kasus sindikat narkoba.     

"Dari hasil penyidikan kami, ternyata Kota Batam merupakan lintas antar negara untuk peredaran narkoba. Setelah aman dikirim ke Batam, baru sindikat akan mengirimnya ke Jakarta, "paparnya.

Untuk meminimalisir peredaran narkoba di Indonesia, ungkap Benny, saat ini, BNN telah melakukan kerjasama dengan asosiasi jasa pengiriman. Hal ini agar bisa terdeteksi lebih dini sebelum barang itu dikirim ke alamat yang dituju.

Selain kerjasama, BNN juga tetap melakukan pengawasan narkoba di tempat hiburan. Khusus tempat hiburan ini lanjut Benny, BNN sudah menginstruksikan kepada pihak yang berwajib untuk melakukan razia secara terus- menerus.

"Kami sudah menginstruksi aparat keamanan untuk terus melakukan razia di tempat hiburan dan juga sudah melakukan kerjasama dengan jasa pengiriman,"ungkapnya.

Selain razia, BNN juga telah melakukan sosialisasi terhadap para TKI, pelajar ataupun mahasiswa juga orang-orang Indonesia yang berada di luar negeri agar waspada kepada orang yang tidak dikenal untuk menitipkan barang ataupun koper. Karena bisa diduga isinya narkoba. 

"Kami sudah mengimbau warga Indonesia yang berada diluar negeri agar jangan mau menerima titipan barang yang berbentuk koper ataupun tas. Karena bisa diduga isinya narkoba dan ini jelas modus baru bagi sindikat pengedaran narkoba,"ungkapnya.

Selama ini 95 persen narkoba dari lua negeri lolos masuk ke Indonesia dan 80 persen melalui jalur laut.

"Memang kebanyakan peredarannya lewat laut dan juga ada yang menggunakan jasa kontainer, "ungkapnya.

Pengiriman narkoba melalui kontainer ini pernah terungkap. BNN berhasil menyita 1,4 juta butir ekstasi dan 350 kilogram sabu-sabu melalui kontainer yang dikirim dari Cina.

"Kita tidak pernah bisa menduga, pengiriman narkoba bisa memakai apa saja, bisa melalui kontainer, kapal nelayan bahkan lewat jasa pengiriman, "paparnya.

Sejak Januari hingga April 2013 ini, setidaknya 34 kasus narkoba yang dikrim melalui  jasa Pos. Narkoba  tersebut dikemas dalam berbagai bentuk untuk mengelabui petugas.

Untuk mengeliminir masuk narkoba ke Indonesia kata Benny, BNN selalu melakukan rapat koordinasi  dengan instansi terkait agar bisa bersama-sama merumuskan, bagaimana menyikapi kondisi seperti ini.

"Kami dari devisi bidang pemberantasan harus bertanggung jawab untuk menekan peredaran narkoba. Sehingga perlu ada  kerjasama yang lebih erat dengan instasi lain untuk menyamakan persepsi tentang ancaman narkoba," pungkasnya.

Masuk Melalui Pelabuhan 


BNN menduga sebagian besar narkoba yang beredar di Indonesia masuk melalui beberapa pelabuhan di Provinsi Kepri yang berbatasan dengan Malaysia dan Singapura. 

"Kondisi geografis Kepri yang terdiri dari banyak kepulauan sering dimanfaatkan sindikat narkotika internasional untuk memasukkan narkoba ke Indonesia. Jadi narkoba yang masuk sebagian besar dari Kepri," Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat BNN, Irjen Pol Sambudiyono beberaopa waktu lalu.

Selain narkoba dibawa langsung masuk Indonesia melalui pelabuhan resmi yang ada di Kota Batam, Tanjungpinang, Kabupaten Bintan dan Karimun, kata dia, narkoba juga dimasukkan melalui pelabuhan rakyat yang banyak tersebar dan tanpa pengawasan.

"Untuk yang dimasukkan melalui pelabuhan resmi, biasanya sindikat membungkus narkoba yang rata-rata berjenis sabu dengan pembungkus tertentu sehingga tidak terdeteksi oleh alat pemindai. Oleh sindikat, barang yang telah dibungkus tersebut biasanya sudah dites menggunakan alat pemindai yang sama seperti dipasang pada Pelabuhan Indonesia untuk memastikan barang tersebut bisa lolos," katanya.

Modus yang dilakukan bila memasukkan barang melalui pelabuhan rakyat, kata dia, narkoba dibawa menggunakan kapal tertentu dan sebelum sandar ada perahu-perahu kecil yang menghampiri dan membawanya ke darat. 

"Untuk yang akan diedarkan di luar Batam, barang langsung dibawa ke Pekanbaru. Selanjutnya baru dibawa ke daerah lain," kata Sambudiyono.

Selain itu, kata dia, sindikat narkotika internasional juga sering memanfaatkan nelayan di perbatasan untuk membawa narkoba tersebut masuk ke Indonesia. "Jarak yang tidak begitu jauh antara Kepri di Indonesia dengan wilayah Singapura atau Malaysia membuat barang tersebut bisa dibawa masuk oleh nelayan menggunakan perahu-perahu motor kecil," kata dia.

Ia berharap, masyarakat perbatasan semakin tanggap dan peka terhadap pihak-pihak yang sering memanfaatkan mereka untuk memasukkan narkoba ke Indonesia.

BNN, kata Sambudiyono, akan meningkatkan kerja sama dengan berbagai pihak di Kepri untuk menghalangi narkoba masuk Indonesia melalui jalur laut. "Ini harus menjadi kewaspadaan kita bersama. Kami akan memberikan perhatian khusus bagi Kepri untuk memberantas peredaran narkoba di Indonesia.(byu)
Share this article :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

SUKSESKAN MTQ NASIONAL DI BATAM

 
Support : Creating Website | Awaluddin, SE | Batamku
Copyright © 2011. Batam Hari Ini, Esok & Nanti - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger